Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu

Kenali Temperamen Anak Anda


Sama halnya seperti orang dewasa, anak-anak sejak balita juga memiliki jenis temperamen yang berbeda. Meski Demikian juga antara anak pertama Anda dan anak kedua dan seterusnya. Meski pola pengasuhan mereka sama, tetapi temperamen yang muncul bisa jadi berbeda.

Penting bagi Anda untuk mengenali seperti apa temperamen anak Anda agar Anda lebih mudah menghadapi mereka. Karena setiap temperamen yang berbeda memiliki teknik pengasuhan yang berbeda.

Jangan pernah sekali-kali membandingkan anak Anda dengan anak lainnya dan merasa bahwa anak Anda memiliki temperamen yang buruk dan Anda adalah orang tua yang gagal. Tidak ada yang salah dengan temperamen, Anda hanya perlu menyesuaikan sikap Anda terhadap temperamen mereka.

Kategori yang dibuat bukan untuk memberi label kepada anak Anda, tetapi untuk memahami dan mencari teknik untuk mengurangi dan mengatur ledakan emosinya.

Anak yang Mudah
Anak seperti ini adalah tipe anak yang dapat Anda bawa ke mana saja dan ia akan bersikap manis seharian. Dia tidak banyak berperilaku buruk. Ia dapat dengan mudah beradaptasi dengan teknik-teknik umum pengasuhan anak. Anda akan kelihatan seperti orang tua yang hebat.
Anak-anak bertipe temperamen mudah juga dapat melancarkan tantrum, tetapi cenderung jarang terjadi dan bersifat ringan. Jika tantrum terjadi berarti terjadi sesuatu yang drastis. Anda tinggal menghindari pemicunya.
Ciri-ciri dominan mereka adalah:
• Fungsi biologis teratur (berirama sedang)
• Secara umum pendekatan mereka positif terhadap sebagian besar situasi dan orang baru
• Penyesuaian diri mudah pada sebagian besar perubahan
• Suasana hati ringan atau intensif dan kebanyakan positif

Anak-Anak yang Sulit
Anak tipe ini lebih sedikit jumlahnya. Mereka anak yang normal, dan dalam beberapa kasus sangat cerdas. Mereka cenderung lebih mudah marah, meski itu bukan berarti tantrum. Ledakan kemarahan mereka lebih keras, lebih lama, dan lebih dramatis.
Mereka cenderung:
• Sangat tidak teratur dalam kebiasaan makan, tidur, dan buang air besar (keteraturan rendah)
• Menolak situasi, makanan,dan orang baru (kecenderungan menarik diri)
• Beradaptasi lambat terhadap perubahan (penyesuaian diri rendah)
• Suasana hati dominan negatif
• Merasa mudah terprovokasi
• Sulit untuk dialihkan
• Sangat aktif dan berorientasi pada tujuan (bahkan sejak bayi, mereka mengetahui dengan pasti apa yang mereka inginkan)
• Mudah frustasi (cenderung bereaksi negatif ketika tujuan mereka terhalangi)

Anak yang Anteng
Anda mungkin menyebut mereka pemalu. Ia anak yang lambat menjadi “panas” dan jarang menunjukkan tantrum hebat. Ketika marah atau frustasi, ia hanya sedikit rewel dan menarik diri diam-diam. Anak seperti ini jarang ribut sehingga mudah diabaikan. Meski ada sesuatu yang mengganggunya, kemungkinan Anda tidak pernah tahu karena ia tidak menunjukkannya.

Anak-anak seperti ini membutuhkan dorongan ekstra untuk menyatakan perasaan-perasaan intensnya. Berikan ia ruang yang lebih luas untuk melampiaskan energi dan perasaan terpendam, tentu dengan cara yang sehat dan aman.
• Irama biologis teratur (keteraturan sedang)
• Menanggapi dengan negatif situasi dan orang-orang baru (pendekatan rendah)
• Beradaptasi lambat dengan perubahan (penyesuaian diri rendah)
(wrm-indonesia.org)


[+/-] Selengkapnya...

Kamis

Mengasuh Anak VS Mengelola Anak


Menjadi orangtua adalah suatu profesi yang sangat mulia. Namun sebagian besar dari kita tidak mengerti harus bagaimana mempersiapkannya.Ketika kita mempersiapkan pernikahan maka kita sibuk memikirkan acara pestanya. Kita sibuk memikirkan siapa yang akan diundang, gaun apa yang akan dikenakan pengantin wanita, makanan seperti apa yang akan dihidangkan, foto kenangan seperti apa yang akan dilakukan dan mungkin juga tempat tinggal seperti apa yang akan dihuni.

Banyak diantara pasangan muda yang menikah tidak mempersiapkan diri untuk mendidik anaknya. Mereka berpikir bahwa kalau menikah dan punya anak maka secara alami kita pasti bisa mendidiknya. Tidak perlu belajar. Tetapi setelah anaknya bermasalah barulah mereka sadar telah membuang waktu untuk belajar. Itupun untung jika masih sadar. Banyak yang tidak menyadarinya sampai tua.
Kebanyakan orangtua sekarang lebih mampu mengelola anaknya ketimbang mengasuh atau mendidiknya. Mengelola adalah kegiatan yang dilakukan dengan pikiran logis. Contohnya menyelesaikan pekerjaan rumah, mengikutkan anak les musik/balet/pelajaran, mengingatkan anak untuk makan, mandi dan tidur. Intinya tentang bagaimana membantu mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan dan menjadi apapun yang mereka inginkan yang sesuai dengan keinginan kita. Kita memperlakukan anak-anak seperti karyawan di kantor yang perlu dikontrol dan diawasi dengan seperangkat aturan.
Apakah dengan cara mengelola seperti itu sudah layak dan cukup disebut mengasuh dan mendidik? Pengasuhan merupakan kegiatan yang kita lakukan dengan pikiran dan juga perasaan. Hal tersebut meliputi memberi pelukan yang cukup banyak, memberi pujian dan menyemangati ketika anak-anak tertekan, memberikan kehangatan untuk menentramkan mereka dan memberikan mereka waktu berkualitas. Selain itu yang tak kalah pentingnya adalah mengetahui siapa mereka dan membantunya menjadi seperti apa yang ada dalam dirinya. Bukan menjadikan mereka seperti apa yang kita inginkan.
Analogi yang paling buruk tentang pengasuhan anak adalah yang mengibaratkan anak seperti gumpalan tanah liat dan orangtua adalah pematungnya. Hal ini menggambarkan bahwa anak berada dalam pihak yang pasif dan tak berdaya sama sekali. Anak diposisikan tidak memberikan kontribusi dalam proses tumbuh kembangnya. Hal ini pada akhirnya gagal dan sangat merugikan perkembangan anak itu sendiri.
Analogi yang lebih baik adalah analogi bibit tanaman. Pohon kecil yang ditanam di taman semuanya mirip. Tapi ternyata mereka semua berbeda. Ada pohon pinus, pohon apel dan pohon mangga. Kita tidak membentuk mereka melainkan merawatnya sesuai dengan karakteristik yang telah ada.
Kita perlu mencari tahu pohon jenis apa. Setelah itu mempelajari apa yang mereka perlukan dan menyediakan apa yang diperlukan tersebut. Mungkin pupuk yang sesuai dan pasokan air yang memadai sesuai dengan semua sifatnya agar mencapai pertumbuhan optimal.
Dalam hal ini, mengelola, membentuk, mengarahkan, dan mengajari mendapatkan porsi. Mengasuh dan mendidik adalah selubung yang melingkupi semua hal tersebut. Mengasuh dan mendidik memerlukan kecakapan untuk menentukan kapan saat terbaik untuk mengelola, membentuk, mengarahkan dan mengajari anak sehingga dengan begitu si anak bisa menemukan memunculkan potensi dan karakteristik terbaik yang telah ada dalam dirinya.
Bagaimana dengan Anda? Apakah selama ini Anda lebih banyak mengelola atau mengasuh? Masih ada waktu untuk mengubah diri dan mempelajari banyak hal untuk membantu anak kita mengembangkan potensi terbaik dirinya. Segeralah ambil tindakan.


[+/-] Selengkapnya...

Rabu

Ayah, Menentukan Kualitas Anak


Seorang ayah dapat menjadi model bagi anak-anak mereka, mencontoh perilaku ayah itulah yang sering dilakukan anak-anak. Namun tidak selamanya seperti itu, bisa saja sang anak meniru perilaku buruk ayahnya.
Apa pun jenis kelamin anak, ayah adalah model terdekat bagi mereka. Sikap dan perilaku ayah terhadap rumah, keluarga dan orang lain terekam dengan kuat dalam memori anak. Dibanding anak perempuan, ternyata anak laki-laki lebih senang mencontoh perilaku ayah mereka.
Seorang ayah yang bermalas-malasan, memberi catatan pada anak laki-laki untuk juga bersikap demikian. Namun, pada anak perempuan akan lahir pemahaman negatif tentang laki-laki. Dia akan berkesimpulan bahwa sifat laki-laki adalah suka bermalas-malasan!
Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjadi ayah yang baik bagi anak-anak, di antaranya :

- Perlakukan ibu dari anak-anak dengan baik

Menjaga keutuhan pernikahan dan rumah tangga, mendengarkan pendapat istri dan menanggapi kebutuhannya merupakan manifestasi dari perlakuan baik terhadap ibu dari anak-anak. Anak mengamati, dan kemudian membentuk perilaku dan pola pikir tentang menghargai pasangan.

- Peka terhadap kondisi rumah
Perhatikanlah hal-hal kecil yang ada di sekitar rumah. Jangan sampai istri atau anak Anda mengingatkan untuk hal-hal kecil yang sebenarnya Anda sudah mengetahuinya, namun belum berbuat sesuatu terhadap hal tersebut.

- Luangkan waktu bersama anak
Cara seorang ayah menggunakan waktu luangnya memberi pemahaman pada anak tentang hal penting dalam hidup ayah. Bila ayah menggunakan waktu luangnya bersama anak, anak akan paham bahwa ia penting dalam kehidupan ayah. Bila ayah asyik bermain sendiri, anak menafsirkan bahwa ayah mementingkan dirinya sendiri.
Menjadi seorang ayah memang memerlukan proses yang panjang, diawali sejak masa kanak-kanak. Ayah yang santun, menghargai istri dan anak-anak, peduli urusan rumah, dan sadar bahwa perilakunya menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Tidak terbentuk begitu saja ketika ia sudah jadi ayah.

Berikut kelanjutan dari artikel sebelumnya :

- Komunikasi dengan anak
Umumnya, ayah hanya mau bicara dengan anak bila anak melakukan kesalahan. Cobalah untuk membiasakan berkomunikasi dengan anak serta dengarkan ide serta masalah yang mereka miliki.


- Jadilah guru bagi anak
Ajarkan hal baik dan buruk pada anak-anak. Dengan demikian, mereka akan membuat keputusan yang baik untuk dirinya.

- Disiplinkan anak dengan cinta
Anak butuh bimbingan dan teladan, bukan ‘cuma’ hukuman. Tunjukkan tentang dampaknya bila anak tidak disiplin, tetapi tidak dengan menghukumnya.

- Sediakan waktu untuk makan bersama
Makan malam bersama, misalnya, dapat Anda jadikan kesempatan untuk mendengarkan hal-hal yang dilakukan anak sepanjang hari.

Mulailah sedari sekarang untuk menjadi model terbaik bagi anak-anak Anda. Bagaimana? (ruangkeluarga.com)


[+/-] Selengkapnya...

Senin

7 Cara Menyayangi Suami


Anda ingin membuat suami bahagia dan merasa beruntung telah menikahi wanita impian (yaitu Anda)? Hal itu sebenarnya tidaklah sulit. Terapkanlah salah satu atau beberapa tips berikut ini.
1. Beri waktu untuk sendiri

Selain pekerjaan dan keluarga, seorang pria membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Katakan pada pasangan bahwa Anda mengerti akan hal itu. Namun, jangan sampai melupakan kewajiban rumah tangga. Anda dapat membahasnya berdua tentang bagaimana dan seberapa sering dia dapat menggunakan waktunya untuk diri sendiri.

2. Dengarkanlah dia

Ada saatnya suami menuntut perhatian penuh dengan meminta Anda mendengarkan ceritanya. Mungkin tentang sesuatu yang bukan minat Anda seperti tentang tim sepak bola kesayangannya. Pandai-pandailah bersikap. Tak ada ruginya, kok, memberi perhatian atas apa yang diceritakannya.

3. Beri waktu untuk sosialisasi

Berkumpul bersama teman-teman bagi seorang pria sangatlah penting. Dia bebas bercerita apa saja dan memberinya semangat baru. Pengertian yang Anda berikan padanya ketika dia ingin pergi keluar bersama teman-temannya membuatnya merasakan kedekatan yang luar biasa tanpa tuntutan yang berlebihan.

4. Beri perhatian kecil

Bagaimana jika Anda merapikan meja kerja suami yang sangat berantakan atau telah menyiapkan secangkir kopi yang masih hangat sepulangnya dari kantor? Pasti dia akan tersentuh. Perhatian-perhatian kecil sangat berarti bagi pasangan. Hal ini mengingatkannya pada kebutuhannya dan penemuan atas dirinya yang merupakan prioritas.

5. Beri pujian

Rasa percaya diri pria dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang suami, baik kehebatannya di ranjang atau perilakunya sebagai ayah, patut diberi pujian sesering mungkin. Pastikan pujian itu tulus serta tidak berlebihan.

6. Beri kepercayaan

Jangan selalu mengatakan padanya untuk berhati-hati mengendarai mobil atau untuk segera menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan orang tuanya. Terlalu banyak nasihat akan membuatnya merasa tidak dipercaya dan hal ini dapat menjadi bumerang bagi Anda.

7. Wujudkan impiannya

Bila dia mengatakan pada Anda bahwa suatu hari, dia sungguh-sungguh ingin naik gunung, coba tanya pada diri sendiri, apa yang ingin Anda berikan pada pasangan? Dukungan atau malah mau menghancurkannya? Dengan segala permasalahan yang dihadapi, perlu juga memberikan sedikit ruang untuk mewujudkan petualangan yang nyata.


[+/-] Selengkapnya...

Kamis

Masa Remaja Yang Penuh Kecemasan



Banyak alasan mengapa masa remaja menjadi sorotan yang tidak lekang waktu. Psikologi sendiri memandang periode ini sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress.


Menurut para ahli, setidaknya ada tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja, yakni konflik dengan orangtua, perubahan mood yang cepat, dan perilaku beresiko.
Peran teman sebaya yang mulai ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian, teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik, sosialita, dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya.
Benarkah demikian? Agaknya para orangtua harus berbesar hati dan membuka diri agar tidak tertipu oleh model rambut, mode pakaian, musik yang berdebum di kamar remaja, juga gaya bahasa yang tidak jarang membuat telinga terasa penuh. Kedekatanlah yang bisa membuka mata dan hati untuk melihat lebih jernih nilai-nilai yang sebenarnya dipegang remaja.
Mood yang naik turun juga sering terdengar dari celetukan remaja, “Bete niiih..” Ada dua mekanisme di mana mood mempengaruhi memori kita. Pertama, Mood-dependent memory, suatu informasi atau realita yang menimbulkan mood tertentu, atau kedua, Mood congruence effects, kecenderungan untuk menyimpan atau mengingat informasi positif kala mood sedang baik, dan sebaliknya informasi negatif lebih tertangkap atau diingat ketika mood sedang jelek. Bisa dibayangkan bagaimana perubahan mood yang cepat pada remaja terkait dengan kecemasan yang mungkin terbentuk.
Remaja juga mempunyai reputasi berani mengambil resiko paling tinggi dibandingkan periode lainnya. Hal ini pula yang mendorong remaja berpotensi meningkatkan kecemasan karena kenekatannya sering mengiring pada suatu perilaku atau tindakan dengan hasil yang tidak pasti. Keinginan yang besar untuk mencoba banyak hal menjadi salah satu pemicu utama. Perilaku nekat dan hasil yang tidak selalu jelas, membuka peluang besar untuk meningkatnya kecemasan pada remaja.
Intoleransi menjadi kunci penting dalam memahami kecemasan pada remaja. Secara logika bisa dipahami bahwa ketidakmampuan individu dalam menerima ketidakpastian sebagai salah satu kenyataan yang akan dihadapi cukup menggambarkan diri orang tersebut. Hal ini juga menarik untuk kembali melirik teori dan studi tentang diri.
Satu lagi yang perlu dipertimbangkan adalah faktor budaya. Perbedaan budaya memiliki pengaruh pada individu dalam menilai pengalaman emosi. Di masyarakat kolektif, self critical menjadi norma, sementara di masyarakat individual, self enhancement yang berlaku. Hal ini memberikan sedikit petunjuk tentang apa yang menjadi obyek perhatian individu dalam berpikir, bersikap dan bertindak. Apakah memang faktor eksternal yang lebih menentukan kecemasan remaja di masyarakat kolektif seperti Indonesia, di mana individu akan sangat terganggu jika tidak bisa memenuhi aturan main yang berkembang dengan lingkungan terutama teman sebaya? Ataukah justru pencapaian diri sudah mencuri perhatian remaja sebagai dampak dari era keterbukaan dengan kecanggihan teknologi informasi?
Masa remaja memang penuh fenomena. Peran orang tua jelas sangat penting. Terlebih dalam memberi arah tujuan hidup yang benar kepada anak remajanya.

[+/-] Selengkapnya...