Hiduplah seorang ahli batu yang sangat terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru negeri. Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu, dipajang menjadi perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.
Namun, sang ahli sudah sangat tua. Kini, ia berusaha mencari pengganti dan penerus karya-karyanya. Belasan orang berusaha berguru. Tapi, tak ada yang cocok buat pekerjaan itu. Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang tampak bersemangat, dan bersedia menjalani ujian. ”Anak muda, ujian pertama ini tidak sulit,” ucap sang ahli membuka pembicaraan.
“Mudah saja. Begini, jika kamu mampu mengambil batu dalam genggamanku, maka kamu layak mewarisi semua ilmuku. Namun, jika tanganku yang lebih cepat menutup, maka kamu harus mengulang ujian itu besok.” Anak muda itu mendengarkan dengan seksama. Ia mengangguk pelan, “Baiklah, itu pekerjaan mudah.”
Ujian itu pun dimulai. Sang ahli, meletakkan sebuah batu di atas genggaman.
Disodorkannya ke arah muka si anak muda. ”Ayo, ambil”. Hap. Tampak kedua tangan yang beradu cepat. Sang pemuda berusaha meraih batu dalam gengaman itu. Ah, dia kalah sigap. Tangan sang ahli telah lebih dulu menutup. ”Kamu belum berhasil anak muda. Cobalah besok.” Sang pemuda tampak kecewa.
Keesokan harinya, anak muda itu kembali mencoba. Ujian pun berulang. Lagi-lagi, dia gagal. Gerakannya masih terlalu lambat. Ia pun harus kembali mengulang ujian itu. Dua, tiga hari dilaluinya, tak juga berhasil. Sembilan hari telah terlewati, tapi batu itu masih belum berpindah tangan. Pemuda itu mulai tampak putus asa, dan dia berjanji, kalau besok masih belum berhasil, dia akan berhenti dan tak mau menjadi ahli permata.
Hari penantian itu pun tiba. Keduanya telah duduk berhadapan. Sang ahli bertanya, ”Kamu sudah siap?” Sang ahli meletakkan sebongkah batu di atas gengamannya. Namun, tiba-tiba anak muda itu berteriak, ”Hei, tunggu dulu. Itu bukan batu yang biasa kita gunakan!” Alih-alih meraih batu itu, sang anak muda malah menanyakan tentang batu. Wajah keheranan itu dibalas dengan senyuman dari sang ahli batu. ”Anak muda, kamu lulus ujian pertama dariku. Selamat!”
Hidup di dunia, kadangkala seperti pertunjukan sulap. Apa yang ada di depan mata, seringkali bukan apa yang kita dapatkan. Harapan yang kita inginkan, acapkali meleset. Banyak yang tertipu, banyak pula yang salah duga dan salah kira. Sebab, di sana memang penuh kepalsuan. Teman, sering kita mendengar istilah, siapa cepat dia dapat. Kita pun terpacu untuk sepakat dengan perkataan itu. Kemudian, segalanya berubah menjadi begitu bergegas. Adu cepat dan adu sigap. Namun, adakah yang tercepat selalu yang jadi pemenang?
Kadangkala jawabannya tidak semudah itu. Saya percaya, tak selamanya kita memaknai hidup ini dengan cara-cara seperti itu. Ada kalanya kita perlu bertanya kepada hati tentang makna hidup yang sebenarnya. Setidaknya, kali ini saya percaya, mereka yang cermatlah yang akan memenangkan pertarungan hidup.
Mereka-mereka yang belajar tentang ketelitianlah yang lulus dari ujian kehidupan. Tak selamanya, si cepat adalah si juara.
Senin
Ahli Batu
Diposting oleh
Majalah AdInfo Bogor
di
14.51
0
komentar
Label: Refleksi
Tak Ada Pasangan Yang Sempurna
Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.
Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut.
"Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia..."
Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.
Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya.
”Aku akan mulai duluan ya,” kata sang istri.
Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai mengalir...
"Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya.
"Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.
Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia.
"Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".
Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang..."
Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia menunduk dan menangis...
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.
Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita? Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk.
Diposting oleh
Majalah AdInfo Bogor
di
14.31
0
komentar
Label: Refleksi
Selasa
7 Buah Kata

Aku tahu aku berbeda dari anak-anak lain. Dan aku amat membencinya. Ketika aku mulai bersekolah, teman-teman selalu mengejekku, maka aku semakin tahu perbedaan diriku. Aku dilahirkan dengan cacat. Langit-langit mulutku terbelah.Ya, aku adalah seorang gadis kecil dengan bibir sumbing, hidung bengkok, gigi yang tak rata. Bila berbicara suaraku sumbang, sengau dan kacau. Bahkan aku tak bisa meniup balon bila tak kupejet hidungku erat-erat.
Jika aku minum menggunakan sedotan, air akan mengucur begitu saja lewat hidungku. Bila ada teman sekolahku bertanya, “Bibirmu itu kenapa?” Aku katakan bahwa ketika bayi aku terjatuh dan sebilah pecahan beling telah membelah bibirku.
Sepertinya aku lebih suka alasan ini daripada mengatakan bahwa aku cacat semenjak lahir. Saat berusia tujuh tahun aku yakin tidak ada orang selain keluargaku yang mencintai aku. Bahkan tidak ada yang mau menyukaiku.
Saat itu aku naik ke kelas dua dan bertemu dengan bu Leonard. Aku tak tahu apa nama lengkapnya. Aku hanya memanggilnya bu Leonard. Beliau berparas bundar, cantik dan selalu harum. Tangannya gemuk. Rambutnya coklat keperakan. Matanya hitam lembut yang senantiasa tampak tersenyum meski bibirnya tidak. Setiap anak menyukainya. Tetapi tak ada yang menyintainya lebih daripada aku. Dan aku punya alasan tersendiri untuk itu.
Pada suatu ketika sekolah melakukan test kemampuan pendengaran; yaitu mendengar kata yang dibisikkan dengan satu telinga ditutup bergantian. Terus terang sulit bagiku untuk mendengar suara-suara dengan satu telinga. Tidak ada orang yang tahu akan cacatku yang satu ini. Aku tak mau gagal pada test ini lalu menjadi satu-satunya anak dengan segala cacat di sekujur tubuhnya.
Maka aku mencari akal untuk menyusun rencana curang. Aku perhatikan setiap murid yang ditest. Test berlangsung demikian: setiap murid diminta berjalan ke pintu kelas, membalikkan tubuh, menutup satu telinganya dengan jari, kemudian bu guru akan membisikkan sesuatu dari mejanya tulisnya. Lalu murid diminta untuk mengulangi perkataan bu guru. Hal yang sama dilakukan pada telinga yang satunya. Aku menyadari ternyata tak ada seorang pun yang mengawasi apakah telinga itu ditutup dengan rapat atau tidak. Kalau begitu aku akan berpura-pura saja menutup telingaku. Selain itu aku tahu dari cerita murid-murid yang lain bu guru biasanya membisikkan kata-kata seperti, “Langit itu biru” atau “Apakah kau punya sepatu baru?”.
Kini tiba pada giliran terakhir; giliranku. Aku berjalan ke luar kelas, membalikkan tubuh lalu menutup telingaku yang cacat itu dengan kuat tetapi kemudian perlahan-lahan merenggangkannya sehingga aku bisa mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh bu guru.
Aku menunggu dengan berdebar-debar kata-kata apa yang akan dibisikkan oleh bu Leonard. Dan bu Leonard, bu guru yang cantik dan harum, bu guru yang aku cintai itu, membisikkan tujuh buah kata yang aku telah mengubah hidupku selamanya. Ia berbisik dengan lembut, “Maukah kau jadi putriku, wahai gadis manis?” Tanpa sadar aku berbalik, berlari, memeluk bu Leonard erat-erat, dan membiarkan seluruh air mataku tumpah di tubuhnya.
Diposting oleh
Majalah AdInfo Bogor
di
13.24
0
komentar
Label: Refleksi
Siswa dan Sekantung Kentang

Cinta dan benci itu bedanya tipis. Tapi jika kebencian sudah merasuki diri kita, habislah semuanya. Berikut ini adalah kisah tentang seorang guru yang mengajarkan arti kebencian pada siswanya.
Suatu hari ibu guru menyuruh tiap siswanya untuk membawa kantung plastic transparan yang diisi dengan kentang yang jumlahnya tak ditentukan. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang mereka benci.
Pada hari yang disepakati masing-masing siswa membawa kentang dalam kantung plastic. Ada yang berjumlah dua, ada yang tiga bahkan ada yang lima. Seperti perintah guru mereka, tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci.
Para siswa itu membawa kantung plastic yang berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selam satu minggu.
Hari berganti hari, kentang–kentang itupun mulai membusuk. Para siswa mulai mengeluh, apalagi yang membawa lima buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap.
Setelah seminggu lamanya, para siswa tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir. “Bagaimana rasanya membawa kentang selama seminguu?” tanya ibu guru.
Keluarlah keluhan dari para siswa tersebut. Pada umunya merea tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang bususk tersebut kemanapun mereka pergi.
Ibu guur pun menjelaskan apa arti dari permainan’ yang mereka lalkukan .
Seperti itulah kebencian yang selalau kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan memwawa kentang bususk kemanapun kita pergi. Itu hanya seminggu. Bagaimana kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya…Jelas ibu guru.
Nah pembaca, kebencian memang tak ada nikmatnya. Satu kebencian saja akan membuat hidup ita merana, apalagi menyimpan banyak kebencian dalam diri kita. Itu sama saja menghancurkan diri sendiri !
Diposting oleh
Majalah AdInfo Bogor
di
11.28
0
komentar
Label: Refleksi
Rabu
Tangisan Bidadari

Setiap musim hujan tiba, aku merasa terlempar ke masa dimana aku masih menjadi seorang gadis kecil yang belum tahu akan dunia. Setiap tetes air hujan yang jatuh dari langit, bagiku bagaikan air mata bidadari yang sedang menangis.
Dan kenyataannya, memang itulah yang selalu dikatakan ibu tiap kali kau bertanya dari mana tetes-tetes air hujan itu berasal. Lalu bayangan bidadari yang sedang menangis itu langsung tergambar dibenakku. Bidadari cantik berwajah murung dengan air mata yang menetes dipipinya yang halus.
Ingatanku pun kembali singgah pada kisah yang terjadi di sore itu. Ketika Ayah baru saja pulang dari kantor dan bilang pada ibu bahwa besok Ia akan pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan dan akan pergi selama beberapa hari. Tentu saja sebagai istri yang baik, ibu langsung menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ayah. Ibu menyiapkan semuanya dengan tulus. Tanpa Ia tahu apa yanag akan terjadi.
Keesokannya ketika ayah akan bearangkat, ibu mengantar ayah kedepan pintu seperti kebiasannya selama ini setiap ayah akan pergi kekantor. Dan itulah awal dari semuanya ini.
Sejak hari itu ayah tidak pernah pulang lagi, ibu kebingungan mencari ayah. Menurut informasi dari kantor bahwa tidak pernah menyuruh ayah untuk tugas keluar kota. Mereka hanya tahu bahwa ayah kami mengundurkan diri dari kantor dan pindah keluar kota.
Ibu menjadi tidak mengerti kenapa ayah melakukan ini? Hari-hari yang baisnaya cerah telah berubaha menjadi kelabu, tak ubahnya musim hujan yang sedang menaungi bumi. Setiap hari ibu mencari kesana-kemari mencari keberadaan ayah tapi tidak ada yang tahu hingga ibu sedikit lupa memperhatikan aku.
Sampai disuatu hari ibu berkata kepadaku. “Ayu, mulai saat ini kita hidup berdua saja,” kata Ibu. “Ayah kemana,” tanyaku tak mengeri. “Ayah telah pergi, kalau kau sudah besar nanti ibu akan menceritakannya dan kau akan mengerti nak,” kata ibu lagi. Akupun tidak bertanya apa-apa lagi. Sejak itu kami memang tinggal berdua dirumah itu, kami hidup dari uang hasil ibu sebagai penjahit dan sering sekali kupergoki ibu sedang menangis. Bila aku bertanya, selalu ada saja alasan yang dikatakannya. Tapi aku tahu, ibu masih memikirkan ayah.
Rasanya benci sekali aku pada ayah. Kenapa ayah meninggalkan kami dan membuat bulir-bulir air mata ibu terus menetes dipipinya. Aku tidak ingin bertemu dengan ayah lagi untuk selamamya.
Bagiku ayah sudah benar-benar mati. Terlebih pada suatu hari kami mendapat kabar tentang ayah. Rupanya salah satu tetangga kami pernah bertemu ayah ketika ia sedang mengunjungi kerabatnya di luar kota. Di kota itu ia bertemu dengan ayah yang ternyata sudah menikah lagi dengan seorang wanita dan mempunyai anak. Kulihat ibu kembali terpukul dengan berita itu. Sungguh malang nasib ibuku. Dan nasibku juga pastinya.
Tapi di balik semua kesedihan itu, masih ada sedikit kebahagiaan yang menghampiri kami. Walaupun kehidupan ekonomi kami pas-pasan, tapi aku bisa sekolah tinggi hingga ke perguruan tinggi. Hingga pada akhrinya aku dapat bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan posisi yang membanggakan.
Akupun pun dipertemukan dengan sorang pria yang sangat baik hati yang kemudian menjadi suamiku. Dari perkawinan itu kami dianugerahi seorang putri yang cantik. “Lupakan ayah, ibu…hanya ini yang bisa kuberikan padamu,” gumamku pada suatu senja yang ditemani rintik-rintik hujan. Kini hidup kami sungguh-sungguh bahagia tanpa sedikitpun terpikir unruk kehadiran seorang ayah di sekitar kami.
Diposting oleh
Majalah AdInfo Bogor
di
15.12
0
komentar
Label: Refleksi
Kamis
Tenzin Norgay

Mungkin Anda pernah mendengar namanya, mungkin juga belum. Kalau Sir Edmund Hillary, pasti Anda pernah mendengarnya. Ya Dialah seorang pendaki pertama yang dapat mengapai puncak tertinggi dunia mount Everest. Dibalik keberhasilan Hillary ada sosok Tenzing Norgay yang membantu memujudkan impiannya. Dari manakah dia berasal, seperti apakah kehidupannya?
Sir Edmund Hillary adalah orang pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak gunung tertinggi dunia Puncak Gunung Everest. Tetapi saat ini bukan Sir Edmund Hillary yang akan kita bahas, tetapi Tenzing Norgay. Tenzing Norgay seorang penduduk asli Nepal yang bertugas sebagai pemandu bagi para pendaki gunung yang berniat untuk mendaki gunung Everest.
Tenzing Norgay menjadi pemandu (orang nepal menyebutnya Sherpa) bagi Sir Edmund Hillary. Pada tanggal 29 Mei 1953 jam 11.30, Tenzing Norgay bersama
dengan Sir Edmund Hillary berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi Everest
pada ketinggian 29,028 kaki diatas permukaan laut dan menjadi orang
pertama didunia yang kemudian menjadi inspirasi dan penyemangat bagi ratusan
pendaki berikutnya untuk mengikuti prestasi mereka.
Pada rentang waktu tahun 1920 sampai dengan tahun 1952, tujuh tim ekspedisi yang berusaha menaklukkan Everest mengalami kegagalan. Keberhasilan Sir Edmund Hillary pada saat itu sangat fenomenal mengingat baru berakhirnya Perang Dunia II dan menjadi semacam inspirator untuk mengembalikan kepercayaan diri bagi seluruh bangsa di dunia.
Karena keberhasilannya, Sir Edmund Hillary mendapatkan gelar kebangsawanan
dari Ratu Inggris yang baru saja dilantik saat itu Ratu Elizabeth II dan menjadi orang yang paling dikenal di seluruh dunia.
Tetapi dibalik keberhasilan itu Tenzing Norgay memiliki peran yang sangat
besar, mengapa Tenzing Norgay tidak menjadi terkenal dan mendapatkan
semua yang didapatkan oleh Sir Edmund Hillary padahal ia adalah sang pemandu
yang membantu dan mengantarkannya mencapai Puncuk Mount Everest?
Seharusnya bisa saja ia lah orang pertama yang menginjakkan kaki di puncak Mount Everest bukan Sir Edmund Hillary. Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :
Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan
puncak gunung tertinggi di dunia?
Tenzing Norgay : Sangat senang sekali
Reporter : Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary,
tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya
Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di
puncak Mount Everest ?
Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak,
saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya
dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan
Puncak Gunung Tertinggi di dunia....
Reporter : Mengapa Anda lakukan itu???
Tenzing Norgay : Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary , bukan impian
saya.....impian saya hanyalah berhasil membantu dan
mengantarkan dia meraih IMPIAN nya.
Itulah sekelumit kisah tentang seorang pemandu pendaki bernama Tenzing Norgay. Ia tidak menjadi serakah ataupun iri dengan keberhasilan, nama besar dan semua penghargaan yang diperoleh Sir Edmund Hillary. Ia cukup bangga dapat membantu orang lain mencapai & mewujudkan impian-nya.
Dalam kehidupan sehari-hari atau dalam dunia kerja kita secara pribadi terbiasa atau terkondisikan untuk fokus kepada diri kita sendiri, siapa yang mendapat nama, apa yang kita dapatkan, bonus, penghargaan, insentif dan sebagainya.
Sebagai renungan "Bisakah kita menjadi seperti Tenzing Norgay?" .....sebenarnya bukan Bisa atau Tidak...tapi Mau atau Tidak! menurut Anda?
Diposting oleh
Majalah AdInfo Bogor
di
16.04
0
komentar
Label: Refleksi
Sabtu
Rahasia 90/10
Suatu hari Anda sarapan bersama di rumah. Anak perempuan anda tiba-tiba tanpa sengaja menumpahkan kopi sehingga baju seragam anda kotor. Anda lepas kendali, memaki-maki anak Anda sehingga dia menangis. Kemarahan anda merembet kepada pembantu karena menaruh cangkir kopi terlalu dekat ke anak Anda. Terjadi debat kusir dengan pasangan anda.
Dengan rasa jengkel, anda tinggalkan meja untuk ganti seragam. Selesai ganti pakaian, anda melihat anak anda masih menangis dan bersiap untuk pergi sekolah tanpa menyelesaikan sarapannya. Tapi dia sudah ditinggalkan mobil jemputan. Anda bergegas ke mobil dan berteriak kepada anak anda untuk segera naik mobil. Anda terpaksa mengantarnya ke sekolah. Kemudian ngebut karena terlambat. Sialnya waktu memotong jalan, anda dihentikan polisi dan terpaksa damai ! dengan memberikan imbalan Rp. 50.000,-.
Sampai di sekolah, anak anda langsung lari dari mobil tanpa mengucapkan sepatah kata-kata. Setelah berjuang keras, akhirnya anda tiba di kantor terlambat 20 menit. Pada saat itu, anda baru sadar bahwa anda lupa membawa tas kerja anda. Anda memulai hari itu dengan kejadian yang menjengkelkan. Ketika waktu berlanjut, semua keadaan seolah-olah berubah menjadi semakin kacau.
Sore hari, anda pulang ke rumah dengan lesu. Disambut suasana “dingin” dari pasangan, anak dan pembantu anda. Semua itu terjadi karena reaksi atau respon yang anda lakukan di pagi hari. Mungkin kita pernah mengalami kejadian serupa. Kesialan diikuti berbagai kesialan lainnya. Hal-hal yang tidak menyenangkan datang silih berganti. Hal itu bisa berupa stress, rasa kurang bahagia dan kemarahan yang mengakibatkan putus hubungan persahabata! n, dijauhi teman , menyebalkan dan kadang sangat menyakitkan.
Coba cermati contoh kasus tersebut. Mengapa anda mengalami hari-hari yang menyebalkan?
(a) Apakah karena kopi tumpah di baju seragam anda?
(b) Apakah karena anak anda yang menyebabkannya?
(c) Ataukah karena Pak Polisi yang menilang anda?
(d) Atau akibat perilaku anda sendiri?
Jawabannya adalah : Sesungguhnya anda bisa mengendalikan reaksi anda pada kejadian tersebut. Hanya reaksi spontan anda, yang mengakibatkan semua itu terjadi. Anda bisa merubah situasi menyebalkan itu menjadi lebih menyenangkan dengan menerapkan rumus 90: 10.
Artinya, 10% dari kehidupan kita berupa “takdir” yang harus diterima, dan 90% lainnya, disebabkan oleh reaksi anda terhadap berbagai tekanan dan kejadian yang menimpa Anda. Kita tidak bisa mengendalikan 10% faktor takdir. Anak tidak sengaja menumpahkan kopi, mobil mogok. Jadual penerbangan terlambat sehingga seluruh rencana kerja menjadi kacau, dan terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Ini realita yang tidak bisa dikontrol.
Berbeda dengan aspek 90% sisanya. Anda bisa mengendalikan dan mengatur reaksi atau respon yang akan anda lakukan terhadap kejadian yang menimpa anda. Jangan biarkan berbagai kejadian itu mengatur anda. Anda pasti bisa mengendalikan bagaimana reaksi atau respon terbaik yang harus anda lakukan.
Berikut, contoh yang seharusnya anda lakukan. Kopi menumpahi seragam anda. Anak anda kaget bahkan terlihat akan menangis. Anda bisa berkata, “Nak, tidak apa-apa cuma basah. Lain kali, berhati-hati kalau sarapan.” Anda segera ke kamar dan mengganti baju seragam. Waktu anda kembali anda lihat anak anda sudah selesai sarapan dan segera lari ke depan, menuju mobil jemputan sambil melambaikan tangan kepada anda. Anda, anda masih bisa baca koran dan bercengkerama sebentar sebelum anda siap pergi ke kantor.
Anda tiba di kantor 5 menit sebelum jam kerja, dengan gembira. Anda menyapa semua rekan dan anak buah anda di sepanjang jalan menuju kamar kerja. Anda mendapat pujian bos dan bawahan yang mengamati gerak gerik anda. Hari ini sungguh menyenangkan. Amati apa perbedaan yang terjadi diantara dua skenario di atas. Semua dimulai dengan kejadian yang sama, kopi tumpah (aspek 10%) yang tidak bisa anda cegah. Namun hasilnya jauh berbeda, karena cara anda (aspek 90% ) kejadian tersebut berbeda. Jangan bereaksi negatif terhadap suatu kejadian yang tidak menyenangkan. Berikan reaksi yang positif, dan yakinkan bahwa hal itu tidak akan merusak hari-hari anda selanjutnya.
Namun, apabila anda memberikan reaksi atau respon yang salah, maka pasti akan berdampak buruk bagi anda selanjutnya.
Apa reaksi anda bila terjebak kemacetan lalu-lintas?
Apakah membunyikan klakson mobil sekeras-kerasnya?
Apakah dengan berlaku seperti itu kejadian akan membaik?
Apakah detak jantung anda menjadi normal atau sebaliknya?
Apakah orang lain peduli bila akhirnya anda terlambat tiba di kantor 10-20 menit?
Mengapa anda membiarkan kejadian tersebut merusak seluruh hari anda?
Ingat rumus 90 :10. Rahasia manfaat penerapan rumus 90 : 10 dalam kehidupan sehari-hari itu sungguh luar biasa. Namun, sedikit diantara kita yang memahaminya, sehingga jutaan orang menderita stress dan berbagai macam masalah pribadi. Ini menjadi bahan refleksi bagi kita.
Diposting oleh
Novry Simanjuntak
di
19.54
1 komentar
Label: Refleksi